Uap jalan berasap selepas hujan ditikungan mengerumuni pelalu lalang yang sore sebatang manusia tegak mengepal batu melemparkan pada cadas kiri punggung bukit dia melesapkan kesal karena paruh baya gagal sedang kanan itu jurang dalam
Tambah puncak gejolak kepala membakar lelah sembari menggigil meniru dinginSetiap mereka kaku setiap mereka bisu tanpa meninggalkan pesan dia termangu berang sia-sia
Ah, kiranya segenggam doa ini sudah jadi penghianat merorong kalut jadilailah seonggokan nisan tua.
0 komentar:
Posting Komentar